Kamis, 20 November 2014

pengembangan alat-alat evaluasi non-te dan tes

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks yang mencakup banyak elemen yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran sendiri secara sederhana terdiri dari 3 tahap utama yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sesuai dengan misi mulia yang diemban pendidikan, yaitu transferring knowledge and value, tahap evaluasi membutuhkan instrument yang buakn hanya mampu pengukur keberhasilan mentransfer  ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif) dan ketrampilan (psikomotor). 
Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. Aspek kognitif yang selama ini menjadi fokus proses pembelajaran di Indonesia cenderung lebih tepat menggunakan tes sebagai alat ukur keberhasilan atau alat evaluasi, namun untuk aspek lain seperti sikap atau afektif  dan ketrampilan atau psikomotor kurang tepat jika diukur dengan tes.
Oleh karena itu, dibutuhkan instrumen jenis lain untuk mengukur aspek dalam proses pembelajaran yang berkenaan dengan domain afektif dan psikomotor. Dengan adanya instrument lain yakni berupa non-tes, data yang diperoleh untuk menggambarkan keberhasilan proses pembelajaran akan semakin lengkap dan bermakna.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, perlu kiranya kami mengkaji tentang:
1.      Apa Pengertian evaluasi non tes?
2.      Bagaimana langkah atau prosedur penyusunan alat evalusi non tes ?
3.      Bagaimana teknik pengembangan instrumen evaluasi non tes ?
4.      Bagaimana penilaian skala sikap (skala likert, guttman, rating scale, dll)?
5.      Bagaimana gambaran umum perbedaan tes standar dan tes buatan guru ?

C.    Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang:
1.      Mengetahui Pengertian evaluasi non tes  
2.      Mengetahui cara penyususnan alat evaluasi non tes.
3.      Mengetahui teknik Pengembangan instrument evaluasi jenis non-tes dalam proses pembelajaran.
4.      Mengetahui bagaimana penilaian skala sikap (skala likert, guttman, rating scale, dll).
5.      Mengetahui bagaimana gambaran umum perbedaan tes standar dan tes buatan guru.




























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian evaluasi non tes
Penilaian non test adalah “penilaian atau pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang dapat diperbuat atau dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan dengan apa yang diketahui atau dipahaminya”. Dengan kata lain penilaian non test berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Adapun menurut Hasyim, ”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa secara langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh penilaian non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Teknik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Sedangkan teknik penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non tes yang berbentuk tulisan atau non lisan.
Alat atau instrumen merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang melaksanakan tugas atau mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Sedangkan istilah evaluasi merupakan suatu proses untuk memperoleh kualitas tertentu terutama yang berkenaan dengan nilai dan arti, istilah lain yang memiliki maksan yang hampir sama dengan evaluasi adalah penilaian (assessment) dan pengukuran. Secara sederhana penilaian dan pengukuran meruapakan komponen yang ada di dalam ruang lingkup evaluasi, dimana penilaian merupakanproses berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi, sedangkan pengukuran lebih khusus mengumpulkan informasi yang bersifat kuantitatif atas sesuatu.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka instrument evaluasi jenis non-tes diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes.






B.     Langkah Atau Prosedur Penyusunan Alat Evalusi Non Tes
a.      Macam-macam Instrument Evaluasi Non-tes
1.      Observasi (Observation)
Observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenati berbagai fenomena yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi dan mengukur factor-faktor yang diamati khususnya kecakapan social. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi, yaitu:
a)      Mempunyai tujuan
b)      Bersifat ilmiah
c)      Terdapat aspek yang diamati
d)     Praktis
Sedangkan secara lebih lanjut, terdapat tiga jenis observasi, yaitu:
a)      Observasi partisipan, dimana pengamat ikut andil dalam kegiatan kelompok yang sedang diamati.
b)      Observasi sistematik merupakan observasi dengan menggunakan kerangka yang berisi faktor-faktor yang ingin diteliti yang telah dikategorikan terlebih dahulu secara struktural.
c)      Observasi Eksperimental meupakan observasi dimana pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok yang diamati namun dapat mengendalikanunsur-unsur tertentu sehingga tercipta tujuan yang sesuai dengan tujuan observasi. Observasi jenis ini memungkinkan evaluator untuk mengamati sifat-sifat tertentu dengan cermat.
Adapun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah:
a.       Merumuskan tujuan observasi
b.      Membuat kisi-kisi observasi
c.       Menyusun pedoman observasi
d.      Menyusun aspek-aspek yang ingin diobservasi
e.       Melakukan uji coba pedoman observasi
f.       Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
g.      Melaksanakan observasi
h.      Mengolah dan menafsirkan hasil observasi
Sama halnya dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan yaitu:

a.       Kelemahan:
1)      Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun observi.
2)      Masalah yang sifatnya pribadi sulit diamati.
3)      Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
b.      Kelebihan:
1)      Observasi cocok dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2)      Observasi cocok untuk mengamati perilaku.
3)      Banyak aspek yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.

2.      Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrument evaluasi jenis non tes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab baik secara langsung tanpa alat perantara maupun secara tidak langsung. Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi untukk menjelaskan suatu kondisi tertentu, melengkapi penyelidikan ilmiah atau untuk mempengaruhi situasi atau orang tertentu. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a.       Wawancara Bebas dimana responnden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya tanpa dibatasi oleh patokan-patokan.
b.      Wawancara Terpimpin merupakan wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi dengan mengajukan pertanyaan yang sudah disusun terlebih  dahulu, sehingga responden hanya memilih jawaban yang sudah disiapkan oleh penanya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan wawancara:
a.       Merumuskan tujuan wawancara
b.      Membuat pedoman wawancara
c.       Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d.      Melakukan uji coba
e.       Melaksanakan wawancara
Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
a.       Kelemahan:
1)      Jika subjek yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2)      Terkadang wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3)      Adanya sikap yang kurang baik dari responden maupun penanya.
b.      Kelebihan:
1)      Dapat memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2)       Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
3)      Pelaksanaannya lebih fleksibel, dinamis dan personal.

C.    Teknik Pengembangan Alat Evaluasi Yang Baik
Didalam teknik pengembangan alat evaluasi terdapat dua teknik pengembangan alat evaluasi di antaranya :
1.      Pengembangan teknik Evaluasi hasil belajar afektif.
2.      Pengembangan teknik Evaluasi hasil belajar psikomotor.

a.      Evaluasi ranah afektif
Ranah afektif merupakan kawasan pendidikan yang masih sulit untuk digarap secara operasional. David Krathwohl beserta para koleganya yang adalah para pakar dengan reputasi akademik memadai pun mengeluh betapa sulit mengembangkan kawasan afektif terutama jika dibandingkan dengan kawasan kognitif. Kawasan afektif seringkali tumpang tindih dengan kawasan kognitif dan psikomotorik. Teoretik kita bisa membedakannya, praktiknya tidak demikian.
Afektif  merupakan karakteristik atau unsur afektif yang diukur, bisa berupa minat, sikap, motivasi, konsep diri, nilai, apresiasi, dan sebagainya.
Afek merupakan traits psikologik yang tidak dapat diamati secara langsung. Kita hanya dapat “memotretnya” melalui perilaku wujud, apakah perkataan atau perbuatan. Kemunculan perilaku ini bisa menunjukkan 3 kecenderungan atau “arah” (Anderson, 1981): positif, netral, atau negatif. Selain memiliki arah, afek juga memiliki “intensitas”, artinya perilaku yang dinyatakan dalam tujuan atau kompetensi afektif haruslah yang mempunyai kemungkinan tinggi (high probability behavior). Pengukuran afek harus pula menyediakan pernyataan “kondisi” dalam kompetensi atau tujuannya, yang menunjukkan terjadinya perilaku yaitu berupa sejumlah preferensi atau pilihan yang disediakan bagi siswa. Siswa bebas memilih. Juga mengandung pernyataan “kriteria”, apakah kriteria yang terkait dengan jumlah subjek atau jumlah kegiatan/perilaku.
Struktur ranah afektif sebagaimana dikembangkan Krathwohl et al (1964) cukup rumit. Artinya struktur afektif ini unsur-unsurnya cukup kompleks.
Sikap berhubungan dengan intensitas perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek psikologik (misal kegiatan pembelajaran, atau mata pelajaran). Minat berhubungan dengan keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek psikologik, atau pilihan terhadap suatu kegiatan. Konsep diri berhubungan dengan pernyataan sendiri tentang keadaan diri sendiri, tentang kemampuan diri terkait objek psikologiknya. Nilai berhubungan dengan keyakinan seseorang tentang keadaan suatu objek atau kegiatan. Teknik pengukuran afektif dapat dilakukan dengan berbagai ragam misal:
1)      skala bertingkat (rating scale; suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan);
2)      angket (questionaire; sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh siswa);
3)      swalapor (berupa sejumlah pernyataan yang menggambarkan respon diri terhadap sesuatu);
4)      wawancara (interview; tanya jawab atau dialog untuk menggali informasi terkait dengan afek tertentu);
5)      inventori bisa disebut juga sebagai interviu tertulis. Dilihat dari banyaknya jajaran kalimat yang isinya hanya perlu di dijawab dengan tanda check, inventori dapat disebut checklist (menandai), daftar atau inventarisasi pribadi, dan lain-lain alat atau teknik nontes.
Masalahnya adalah, bagaimana mengembangkan instrumen pengukuran afektif yang bermutu sebagai dasar penilaian afektif yang bermutu pula sehingga evaluasi efektif dapat berfungsi sebagai salah satu alat penjamin mutu pendidikan di sekolah sekaligus sebagai alat penjamin mutu guru. Penilaian afektif berguna antara lain untuk bahan pembinaan bagi siswa dalam usaha meningkatkan penguasaan kompetensinya dan masukan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran.
Secara umum, pengembangan alat evaluasi atau instrumen afektif menuntut beberapa langkah: membuat definisi konseptual, membuat definisi operasional, menentukan metode pengukuran atau skala pengukuran, analisis instrumen. Langkah-langkah ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Membuat definisi konseptual, dalam hal ini kita perlu memahami konstrak (construct) teoretik;
b.      Membuat definisi operasional, di dalamnya kita menentukan domain atau indikator, serta menentukan objek psikologiknya, untuk kemudian dibuat kisi-kisi, serta membuat butir-butir pernyataan;
c.       Menentukan metode pengukuran atau penskalaan, untuk mengukur sikap misalnya ada 3 metode utama yaitu : judgment method, response method, kombinasi kedua metode yakni judgment and response methods;
d.      Analisis instrumen, hal ini dilakukan setelah kita melakukan ujicoba pengukuran, hasilnya kemudian dianalisis baik per butir maupun keseluruhan butir.
Sementara Sutrisno Hadi (1991), secara lebih sederhana menjelaskan 3 langkah pokok dalam menyusun instrumen:
1)      Mendefinisikan konstrak;
2)      Menyidik faktor (identifikasi faktor atau dimensi);
3)      Menyusun butir-butir pernyataan.
Apabila ketiga langkah itu telah dilakukan, selanjutnya dilakukan ujicoba atau pelaksanaan pengukuran itu sendiri, kemudian hasilnya diuji atau dianalisis:
1)      Uji keandalan antar rater (hanya jika konstrak yang diukur dikerjakan melalui rating atau penilaian panelis);
2)      Uji kesahihan butir;
3)      Uji keandalan butir;
4)      Uji kesahihan faktor.
Untuk menghasilkan instrumen yang baik, analisis instrumen hendaknya dilakukan secara kualitatif atau validasi non statistik (content validity), dan analisis kuantitatif (analisis butir, analisis reliabilitas dan validitas terutamaconstruct validity).

b.      Evaluasi ranah psikomotor
Istilah psychomotor, psikomotor terkait dengan kata motor, sensory-motor, atau perceptual-motor.
Ada beda makna antara skills (keterampilan) dan abilities (kemampuan). Keterampilan lebih terkait dengan psikomotor, sedangkan kemampuan terkait dengan kognitif selain pikomotor itu sendiri.
Taksonomi dalam ranah psikomotor dirumuskan oleh Anita J. Harrow (1976). Menurutnya, ada 6 tingkat klasifikasi dalam ranah psikomotor yaitu :
a.       Gerakan refleks (Reflex Movements), yakni respons gerakan yang tak disadari yang dimiliki individu sejak lahir, mencakup : refleks segmental, refleks intersegmental, dan refleks suprasegmental. Ketiga refleks ini terkait dengan gerakan-gerakan yang dikoordinasikan oleh otak dan bagian-bagian sumsum tulang belakang.
b.      Basik gerakan dasar (Basic-Fundamental Movements), yaitu gerakan-gerakan yang menuntut kepada keterampilan yang kompleks sifatnya, meliputi :
1)      gerakan lokomotor (gerakan yang mendahului kemampuan berjalan seperti tengkurap, merangkak, memanjat);
2)      gerakan nonlokomotor (gerakan dinamik dalam suatu ruangan yang bertumpu pada suatu sumbu tertentu);
3)      gerakan manipulatif (gerakan yang terkoordinasikan seperti gerakan dalam ibadah shalat).
c.       kombinasi dari kemampuan kognitif dan gerakan (Perseptual Abilities)
1.      Diskriminasi kinestetik (menyadari akan gerakan tubuh seseorang)
a)      Kesadaran bodi (menyadari gerakan pada dua sisi tubuh, satu sisi tubuh, keseimbangan atau keberatsebelahan);
b)      Imej bodi (perasaan adanya gerakan yang terkait dengan badannya sendiri);
c)      Hubungan bodi dengan lingkungan sekitar (arah dan kesadaran badan kaitannya dengan lingkungan ruang sekitar);
2.      Diskriminasi visual:
a)      Kemampuan membedakan bentuk dan bagian- kemampuan mengikuti objek- mengingat pengalaman visual
b)      Membedakan figur yang dominan di antara latar belakang yang kabur
c)      Konsistenssi, pengenalan konsep viual;
d.      Kemampuan yang diperlukan untuk mengembangkan gerakan-gerakan keterampilan tingkat tinggi (Physical Abilities), meliputi ketahanan, kekuatan, kellenturan, kecerdasan otak (agility) atau kemampuan untuk bergerak cepat.
e.       Gerakan yang memerlukan belajar (Skilled Movements) misal keterampilan menakar atau menimbang beras zakat fitrah, meliputi keterampilan adaptasi terkait dengan basik gerakan dasar; keterampilan adaptasi kombinasi misal menggunakan peralatan tertentu; keterampilan adaptasi kompleks seperti menguasai mekanime seluruh tubuh dalam gerakan-gerakan shalat;
f.       Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan gerakan (Non-Discursive Communication), meliputi : gerakan ekspresif; gerakan interpretif seperti gerakan dalam seni dan kreatif (improvisasi).
Sementara taxonomi psikomotor versi Simpson mencakup 7 kategori :
1)      Perception (persepsi) mencakup kemampuan mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua atau lebih perangsang menurut ciri-ciri fisiknya;
2)      Set (kesiapan) yakni menempatkan diri dalam keadaan akan memulai suatu gerakan;
3)      Guided Response (gerakan terbimbing) yaitu kemampuan untuk melakukan serangkaian gerak sesuai contoh;
4)      Mechanical Response (gerakan terbiasa) berupa kemampuan melakukan gerakan dengan lancar karena latihan cukup;
5)      Compex Response (gerakan kompleks) mencakup kemampuan melaksanakan keterampilan yang meliputi beberapa komponen dengan lancar, tepat, urut, dan efisien;
6)       Adjusment (penyeuaian pola gerakan) yaitu kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerakan seuai kondisi yang dihadapi;
7)      Creativity(kreativitas) yang berupa kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru berdasarkan inisiatif dan prakarsa sendiri.
Pengukuran karakteristik (gerak) dalam ranah psikomotor dilakukan terhadap proses maupun hasil belajar yang berupa tampilan perilaku atau kinerja. Dalam hal ini kita bisa menggunakan kriteria atau prinsip-prinsip : kecermatan, inderawi, kreatif, efektif. Menurut Antony J. Nitko (1994) untuk mengukur gerak motorik ada dua pendekatan: (1) pengamatan dan pengukuran pada saat proses berlangsung; (2) pengamatan dan pengukuran pada hasil dari gerakan motorik. Pendekatan pengukuran proses memerlukan kecermatan dan konsentrasi serta waktu yang relatif lama. Sementara pengukuran dengan pendekatan hasil relatif lebih mudah mengamatinya. Pengukuran karakteristik psikomotor yang baik adalah menggunakan dua pendekatan tersebut.
Pengukuran karakteristik psikomotor dapat menggunakan beraneka model instrumen, misal: (1) Checklist (menandai); (2) Identification Test (tes identifikasi); (3) Ranking (urutan); (4) Numerical Scales (skala angka); (5) Graphic Rating Scales (skala rating grafik). Kesemua model ini menggunakan pendekatan observasi (pengamatan). Pengamatan terhadap karakteristik psikomotor dilakukan dalam upaya untuk menemukan kesesuaian teori (materi belajar yang pernah dipelajari) dan tampilan atau kinerja yang dapat ditunjukkan oleh siswa.
Guru yang melakukan pengukuran karakteristik psikomotor siswa dengan menggunakan tes tindakan perlu memahami 4 hal : kecepatan, kecermatan, gerak dan waktu, serta ketahanan dan kemampuan fisik. Keempat hal ini masing-masing dapat dijabarkan ke dalam 4 jenis tes yaitu : tes kecepatan, tes kecermatan, tes gerak dan waktu, serta tes ketahanan dan kemampuan fisik.
Pengukuran karakteristik psikomotor dengan menggunakan tes tindakan perlu ditempuh dengan serangkaian langkah sebagai berikut : (1) identifikasi gerak motorik yang dikehendaki berdasarkan kompetensi dasar yang relevan, untuk hal ini perlu dibuat kisi-kisi; (2) tentukan apakah proses atau hasil yang hendak diukur; (3) membuat butir-butir tes beserta kunci jawaban (poin-poin atau rambu-rambu jawaban); (4) tentukan skala pengukurannya, cara penskorannya; (5) lakukan validasi isi tes; (6) revisi berdasarkan hasil validasi; (7) sebelum digunakan, sebaiknya diujicoba kemudian dianalisis; (8) revisi berdasar hasil ujicoba dan analisis; (9) hasil tes siap digunakan.
Penilaian berbasis Kelas (PBK) dalam Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK mengisyaratkan bahwa untuk menilai ranah psikomotor digunakan penilaian unjuk kerja/kinerja (performance), atau jenis lain yaitu penilaian proyek, portofolio, dan penilaian produk. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan pengamatan. Untuk ini guru perlu menyiapkan lembar pengamatan secara baik. Lembar pengamatan yang baik setidaknya mencakup : (1) kemampuan atau karakteristik psikomotor apa yang dinilai; (2) indikator-indikator pada setiap aspek kemampuannya jelas; (3) masing-masing indikator memiliki deskriptor (dengan menggunakan skala bertingkat) yang jelas; (4) serta penilaian atau penskoran akhir harus jelas pula. Lembar pengamatan yang baik perlu dilakukan validasi isi, ujicoba dan analisis (konkordansi antar rater, reliabilitas, dan validitas).
Pemilihan dan penggunaan jenis-jenis penilaian psikomotor tergantung pada kebutuhan. Yang terpenting, apapun jenis penilaian (pengukuran) yang digunakan, dalam perspektif PBK, dan proses penilaian perlu mendasarkan pemahaman pada tata urut rumusan yang telah digariskan dalam pengembangan silabus dan sistem penilaian, yaitu dimulai dari identifikasi, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok dan uraiannnya, pengalaman belajar, indikator, dan penilaian itu sendiri. Dengan demikian logika penilaiannya dapat ditelusuri dengan jelas.
D.    Penilaian Skala Sikap (Skala Likert, Guttman, Rating Scale,Dll)
a.       Skala Sikap (Attitude Scale)
Sikap merupakan suatu kecenderungan  tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik dan pola tertentu. Dalam mengukur sikap, guru harus memperhatikan tiga komponen sikap yaitu kognisi (pengetahuan terhadap objek), afeksi (perasaan terhadap objek), dan konasi (berperilaku terhadap objek). Model skala sikap yang biasa digunakan antara lain:
a.       Menunjukan bilangan untuk menunjukan tingkatan objek yang dinilai (1,2,3)
b.      Menunjukan frekuensi (selalu, sering, tidak pernah)
c.       Menunjukaan istilah kualitatif ( baik sekali, baik, kurang baik)
d.      Menunjukan status atau kedudukan (sangat tinggi, diatas rata-rata, rendah)
e.       Menggunakan kode bilangan atau huruf ( selalu(5), kadang-kadang (4), jarang (3), jarang sekali (2), tidaak pernah (1)

a)      Skala likert
Prinsip pokok skala likert adalah menentukan lokasi kedudukukan seseorang dalam suatu kontinum sikap terhadap  objek sikap, mulai dari sangat negatif  sampai dengan sangat  positif. penentuan lokasi itu dilakukan  dengan mengkuantifikasikan pertanyaan seeseroang terhadap butiran pertanyaan yang disediakan.
Untuk skala likert digunakan skala dengan llima angka. Skala 1 (satu) berarti sangat negatif dan skala 5 (lima) berarti  positif.
Skala ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh respons yang menujukan tingkatan. Contoh pilihan respons:
SS              = sangat setuju
S                = setuju
TB / R       = tidak punyak pendapat/ ragu-ragu
TS              = tidak setuju
STS           = sangat tidak setuju

Contoh instrumen untuk mengukur sikap siswa  terhadap mata pelajaran TIK

Contoh instrumen untuk mengukur sikap siswa

NO
Siakap siswa
STS
TS
R
S
SS
1
Pelajaran TIK bermanfaat





2
Pelajaran TIK sulit





3
Tidak semua siswa harus belajar TIK





4
Pelajaran TIK harus dibuat muda





5
Harus banyak latihan pada pelajaran TIK






Skoring pilihan jawaban skala likert tergatung pada sifat pernyataann. Untuk pernyataan yang bersifat positifskor jawaban adalah : SS = 5;S =4;R = 3; TS = 2; dan STS = 1.

Untuk pernyataan yang bersifat negatif adalah sebaliknya,
Yaitu: : SS = 1;S = 2;R = 3; TS = 4; dan STS = 5. Contoh pernyataan positif :” pelajaran TIK bermanfaat”, sedangkan contoh pernyataan negatif antara lain :” tidak semua sisiwa harus belajar TIK”.

Langkah-langkah Model Linkert:
a.       Memilih variabel afektif yang akan diukur
b.      Membuat pertanyaan terait variabel yang akan diukur
c.       Mengklasifikasikan pertanyaan yang positif dan negatif
d.      Menentukan angka yang menjadi alternatif pilihan
e.       Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian
f.       Melakukan uji coba
g.      Membuang butir pertanyaan yang kurang baik
h.      Melaksanakan penilaian

b)      Skala guttman
Skala ini merupakan sederetan pernyataan opini tentang sesuatu objek secara berurutan. Responden diminta untuk menyatakan pendapatnya tentang pernyataan pendapatnya tentang pernyataan itu (setuju atau tidak setuju). Bila ia setuju dengan pernyataan pada nomor urut tertent, maka diasumsikan juga setuju dengan pernyataan sebelumnya dan tidak setuju dengan pernyataan sesudahnya.

Contoh :
1.      Saya mengizinkan anak saya bermain ke tetangga.
2.      Saya mengizinkan anak saya pergi kemana ia mau.
3.      Saya mengizikan anak sya pergi kapan saja dan kemana saja.
4.      Anak saya bebas pergi kemana saja tanpa seizin terlebih dahulu.

Bila responden setuju dengan pernyataan nomor 3 misalnya,maka dianggap setuju dengan pernyataan 1 dan 2 serta tidak setuju dengan pernyataan nomor 4.

c)      Skala lajuan (Rating Scale)
Pengertian Rating Scale adalah instrumen pengukuran non-tes yang menggunakan suatu prosedur terstruktur Untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasikan yang menyatakan posisi tertentu dalam hubugannya dengan yang lain ( Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. 2005: 112)
Rating Scale  terdiri dari dua bagian yaitu:
1.      Pernyataan tentang kualitas keberadaan sesuatu.
2.      Petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut.
Setiap pasang pernyataan dan penilaian dapat dianggap sebagai satu butir soal dalam Rating Scale.
Ada empat tipe Rating Scale daianataranya yaitu:
1.      Numerical rating scale
2.      Descriptive graphic rating scale
3.      Ranking method rating scale
4.      Paired comparisons rating scale
Dari keempat tipe tersebut Numerical rating scale, dan Descriptive graphic rating scale palig banyak digunakan.

E.     Gambaran umum perbedaan tes standar dan tes buatan guru.
  1. Pengertian Tes Standar, Tes Prestasi Standar
Pengertian tes standar secara sempit adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi syarat sebagai tes yang baik. Tes ini dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama, dapat diterapkan pada beberapa obyek mencakup wilayah yang luas. Untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya telah diuji-cobakan beberapa kali sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Di antara tes prestasi yang digunakan di sekolah ada yang dinamakan tes prestasi standar. Dalam salah satu  kamus, arti kata ”standar” adalah: A degree of level of requirement, excellence, or attainment
Standar untuk siswa dapat dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus dimiliki bagi suatu program tertentu. Mungkin standar bagi suatu kursus A berbeda dengan B. Jadi standar ini dapat dibuat “keras” maupun “lunak” tergantung dari yang mempunyai  kebijaksanaan.
Suatu tes standar dengan demikian berbeda dengan tes prestasi biasa.
Prosedur yang digunakan untuk menyusun tes standar untuk tes prestasi melalui cara langsung yang ditumbuhkan dari tes yang digunakan di kelas. Sedangkan spesifikasi yang digunakan untuk menentukan isi dalam tes bakat biasanya didasarkan atas analisis job (jabatan) atau analisis tugas yang merupakan tuntutan calon pekerjaannya. Disamping itu juga mempertimbangkan sifat-sifat yang ada pada manusia. Analisis jabatan analisis tugas yang dilakukan biasanya tidak tidak didasarkan atas satu kurikulum, tetapi diambil dari masyarakat.
Istilah “standar” dalam tes dimaksudkan bahwa semua siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan dengan menggunakan petunjuk yang sama dan dalam batasan waktu yang sama pula. Dengan demikian maka seolah-olah ada suatu standar atau ukuran sehingga diperoleh suatu standar penampilan (performance) dan penampilan kelompok lain dapat dibandingkan dengan penampilan kelompok standar tersebut.
Istilah “standar” tidak mengandung arti bahwa tes tersebut mengukur apa yang harus dan dapat diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu menyiapkan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu. Sekali lagi, tes standar dipolakan untuk penampilan prestasi sekarang (yang ada) yang dilaksanakan secara seragam, diusahakan dalam kondisi yang seragam, baik itu diberikan kepada siswa dalam pelaksanaan perseorangan maupun siswa sebagai anggota dari suatu kelompok.
  1. Perbandingan Tes Standar dan Tes Buatan Guru.
Tes standar disusun dalam tipe-tipe soal yang sama yang meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan atau pengetahuan yang dicakup oleh tes buatan guru. Lalu apakah perbedaan antara tes standar dengan tes buatan guru, atau apakah keburukan dan keuntungan tes standar?
Pertama, marilah kita tinjau perbedaan antara tes standar dengan tes buatan guru. Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Tes Standar
Tes Buatan Guru
a.       Didasarkan atas bahan dan tujuan umum dari sekolah-sekolah di seluruh Negara.
b.      Mencakup aspek yang luas dan pengetahuan atau keterampilan dengan hanya sedikit butir tes untuk setiap keterampilan atau topik.
c.       Disusun dengan kelengkapan staf profesor, pembahas, dan editor butir tes.
d.      Menggunakan butir tes yang sudah diujicobakan (try out), dianalisis dan direvisi sebelum menjadi sebuah tes.
e.       Mempunyai reliabilitas yang tinggi.
f.       Dimungkinkan menggunakan norma untuk seluruh Negara.
a.       Didasarkan atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan oleh guru untuk kelasnya sendiri.
b.      Dapat terjadi hanya mencakup pengetahuan atau keterampilan yang sempit.
c.       Biasanya disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain/tenaga ahli.
d.      Jarang menggunakan butir tes yang sudah diujicobakan, dianalisis dan direvisi.
e.       Mempunyai reliabilitas sedang atau rendah.
f.       Norma kelompok terbatas kelas tertentu.

Kedua, untuk menyusun tes standar, diutuhkan waktu yang lama. Seperti disebutkan ahwa untuk memperoleh sebuah tes standar melalui prosedur:
1.      Penyusunan;
2.      Uji coba;
3.      Analisa;
4.      Revisi;
5.      Edit.
Kelima kegiatan ini membutuhkan waktu lama.


  1. Kegunaan Tes Standar dan Tes Buatan Guru.
a.       Kegunaan Tes Standar
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes standar adalah:
a.       Jika ingin membuat perbandingan,
b.      Jika banyak orang yang akan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data tentang calon ini.
Secara garis besar kegunaan tes standar adalah:
                                  i.          Membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individu atau kelompok.
                                ii.          Membandingkan tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk individu atau kelompok.
                              iii.          Membandingkan prestasi siswa antara berbagai sekolah atau kelas.
                              iv.          Mempelajari perkembangan siswa dalam suatu periode waktu tertentu.

b.      Kegunaan Tes Buatan Guru
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes buatan guru adalah:
                                i.            Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu.
                              ii.            Untuk menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.
                            iii.            Untuk memperoleh suatu nilai.

Selanjutnya baik tes standar dan tes buatan guru dianjurkan dipakai jika hasilnya akan digunakan untuk:
a)      Mengadakan diagnosis terhadap ketidakmampuan siswa.
b)      Menentukan tempat siswa dalam suatu kelas atau kelompok.
c)      Memberikan bimbingan kepada siswa dalam pendidikan dan pemilihan jurusan.
d)     Memilih siswa untuk program-program khusus.
  1. Kelengkapan Tes Standar
Sebuah tes yang sudah distandardisasikan dan sudah dapat disebut sebagai tes standar, biasanya dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau petunjuk-petunjuk yang perlu terutama yang menjelaskan tentang pelaksanaan, menskor, dan mengadakan interpretasi.
Secara garis besar manual tes standar ini memuat:
a.       Ciri-ciri mengenai tes, misalnya menyebutkan tingkat validitas, tingkat reliabilitas dan sebagainya.
b.      Tujuan serta keuntungan-keuntungan dari tes
-Misalnya yang disebutkan untuk siapa tes tersebut diberikan dan untuk tujuan apa.
c.       Proses standardisasi tes
Misalnya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan sampel.
- Besarnya sampel,
- Teknik sampling,
- Kelompok mana yang diambil sebagai sampel (sifat sampel).
Juga mengenai taraf kepercayaan yang diambil dan bagaimana kaitannya dengan hasil tes.
d.      Petunjuk-petunjuk tentang cara melaksanakan tes
Misalnya: dilaksanakan dengan lisan atau tertulis, waktu yang digunakan untuk mengerjakan setiap bagian, boleh tidaknya tercoba keluar jika sudah selesai mengerjakan soal itu dan sebagainya.
e.       Petunjuk-petunjuk bagaimana cara menskor
Misalnya: untuk beberapa skor tiap-tiap soal/unit, menggunakan sistem hukuman atau tidak, bagaimana cara menghitung nilai akhir dan sebagainya.
f.       Petunjuk-petunjuk untuk menginterpretasikan hasil
Misalnya:
- Betul nomor sekian sampai sekian cocok untuk jabatan kepala seksi,
- Betul nomor sekian saja, cocok untuk jabatan guru dan sebagainya.
g.      Saran-saran lain
Misalnya: siapa harus menjadi pengawas, bagaimana seandainya tidak ada calon yang mencapai skor tertentu dan sebagainya.






















 BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tahap evaluasi membutuhkan instrument yang bukann hanya mampu pengukur keberhasilan mentransfer ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif).  Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. instrument evaluasi jenis non-tes diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes. Instrument evaluasi non-tes tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu observasi, wawancara, skala sikap, daftar cek, skala lenilaian, angket, studi kasus, catataninsidental, sosiometri, inventori kepribadian dan teknik pemberian penghargaan kepadapeserta didik. Tiap jenis instrument tersebut memiliki karakteristik, langkah-langkah, kekurangan, dan kelebihan masing-masing yang memungkinkan evaluator untuk memilih instrument yang paling sesuai untuk melakukan evaluasi.



















DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Sudjana2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,Bandung: PT Remaja RosdaKarya.
Anas Sidijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta, 1995
Ramayulis,Ilmu pendidikan islam, Kalam Mulia : Jakarta, 2008