BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan
suatu sistem yang kompleks yang mencakup banyak elemen yang saling berkaitan
satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran sendiri secara
sederhana terdiri dari 3 tahap utama yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Sesuai dengan misi mulia yang diemban pendidikan, yaitu transferring
knowledge and value, tahap evaluasi membutuhkan instrument yang buakn hanya
mampu pengukur keberhasilan mentransfer
ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif) dan ketrampilan (psikomotor).
Setiap aspek yang ada
dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat dan sesuai agar data
yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. Aspek kognitif yang selama ini
menjadi fokus proses pembelajaran di Indonesia cenderung lebih tepat
menggunakan tes sebagai alat ukur keberhasilan atau alat evaluasi, namun untuk
aspek lain seperti sikap atau afektif
dan ketrampilan atau psikomotor kurang tepat jika diukur dengan tes.
Oleh karena itu,
dibutuhkan instrumen jenis lain untuk mengukur aspek dalam proses pembelajaran
yang berkenaan dengan domain afektif dan psikomotor. Dengan adanya instrument
lain yakni berupa non-tes, data yang diperoleh untuk menggambarkan keberhasilan
proses pembelajaran akan semakin lengkap dan bermakna.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas, perlu kiranya kami mengkaji tentang:
1.
Apa Pengertian evaluasi
non tes?
2.
Bagaimana langkah atau
prosedur penyusunan alat evalusi non tes ?
3.
Bagaimana teknik
pengembangan instrumen evaluasi non tes ?
4.
Bagaimana penilaian skala
sikap (skala likert, guttman, rating scale, dll)?
5.
Bagaimana gambaran umum
perbedaan tes standar dan tes buatan guru ?
C.
Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang:
1.
Mengetahui Pengertian evaluasi non
tes
2.
Mengetahui cara
penyususnan alat evaluasi non tes.
3.
Mengetahui teknik Pengembangan
instrument evaluasi jenis non-tes dalam proses pembelajaran.
4.
Mengetahui bagaimana
penilaian skala sikap (skala likert, guttman, rating scale, dll).
5.
Mengetahui bagaimana
gambaran umum perbedaan tes standar dan tes buatan guru.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian evaluasi non tes
Penilaian non test
adalah “penilaian atau pengamatan perubahan tingkah laku yang berhubungan
dengan apa yang dapat diperbuat atau dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan
dengan apa yang diketahui atau dipahaminya”. Dengan kata lain penilaian non
test berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan
pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Adapun menurut Hasyim,
”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur kemampuan siswa secara
langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh penilaian
non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan
laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Teknik penilaian nontes
berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Sedangkan teknik
penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non tes yang berbentuk
tulisan atau non lisan.
Alat atau instrumen
merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang melaksanakan
tugas atau mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Sedangkan istilah
evaluasi merupakan suatu proses untuk memperoleh kualitas tertentu terutama
yang berkenaan dengan nilai dan arti, istilah lain yang memiliki maksan yang
hampir sama dengan evaluasi adalah penilaian (assessment) dan pengukuran.
Secara sederhana penilaian dan pengukuran meruapakan komponen yang ada di dalam
ruang lingkup evaluasi, dimana penilaian merupakanproses berkesinambungan untuk
mengumpulkan informasi, sedangkan pengukuran lebih khusus mengumpulkan
informasi yang bersifat kuantitatif atas sesuatu.
Berdasarkan
pengertian-pengertian diatas maka instrument evaluasi jenis non-tes diartikan
sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk
memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes.
B.
Langkah Atau Prosedur Penyusunan Alat Evalusi Non Tes
a.
Macam-macam Instrument Evaluasi Non-tes
1.
Observasi (Observation)
Observasi merupakan
suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan
rasional mengenati berbagai fenomena yang bertujuan untuk mengumpulkan data
atau informasi dan mengukur factor-faktor yang diamati khususnya kecakapan
social. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi, yaitu:
a)
Mempunyai tujuan
b)
Bersifat ilmiah
c)
Terdapat aspek yang
diamati
d)
Praktis
Sedangkan secara lebih
lanjut, terdapat tiga jenis observasi, yaitu:
a)
Observasi partisipan,
dimana pengamat ikut andil dalam kegiatan kelompok yang sedang diamati.
b)
Observasi sistematik
merupakan observasi dengan menggunakan kerangka yang berisi faktor-faktor yang
ingin diteliti yang telah dikategorikan terlebih dahulu secara struktural.
c)
Observasi Eksperimental
meupakan observasi dimana pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok yang
diamati namun dapat mengendalikanunsur-unsur tertentu sehingga tercipta tujuan
yang sesuai dengan tujuan observasi. Observasi jenis ini memungkinkan evaluator
untuk mengamati sifat-sifat tertentu dengan cermat.
Adapun langkah-langkah
penyusunan pedoman observasi adalah:
a. Merumuskan tujuan observasi
b. Membuat kisi-kisi observasi
c. Menyusun pedoman observasi
d. Menyusun aspek-aspek yang ingin diobservasi
e. Melakukan uji coba pedoman observasi
f. Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
g. Melaksanakan observasi
h. Mengolah dan menafsirkan hasil observasi
Sama halnya dengan
instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan
kelebihan yaitu:
a. Kelemahan:
1)
Pelaksanaannya sering
terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun
observi.
2)
Masalah yang sifatnya
pribadi sulit diamati.
3)
Apabila memakan waktu
lama, akan menimbulkan kejenuhan.
b. Kelebihan:
1)
Observasi cocok
dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2)
Observasi cocok untuk
mengamati perilaku.
3)
Banyak aspek yang tidak
dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.
2.
Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan
salah satu bentuk instrument evaluasi jenis non tes yang dilakukan melalui
percakapan dan tanya jawab baik secara langsung tanpa alat perantara maupun
secara tidak langsung. Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi untukk
menjelaskan suatu kondisi tertentu, melengkapi penyelidikan ilmiah atau untuk
mempengaruhi situasi atau orang tertentu. Wawancara dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu:
a. Wawancara Bebas dimana responnden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan
pendapatnya tanpa dibatasi oleh patokan-patokan.
b. Wawancara Terpimpin merupakan wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi
dengan mengajukan pertanyaan yang sudah disusun terlebih dahulu, sehingga
responden hanya memilih jawaban yang sudah disiapkan oleh penanya.
Berikut ini merupakan
langkah-langkah untuk melakukan wawancara:
a. Merumuskan tujuan wawancara
b. Membuat pedoman wawancara
c. Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d. Melakukan uji coba
e. Melaksanakan wawancara
Sedangkan kelemahan dan
kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
a. Kelemahan:
1)
Jika subjek yang ingin
diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2)
Terkadang wawancara
berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3)
Adanya sikap yang
kurang baik dari responden maupun penanya.
b. Kelebihan:
1)
Dapat
memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2)
Dapat memperbaiki
proses dan hasil belajar
3)
Pelaksanaannya lebih
fleksibel, dinamis dan personal.
C.
Teknik
Pengembangan Alat Evaluasi Yang Baik
Didalam teknik pengembangan alat
evaluasi terdapat dua teknik pengembangan alat evaluasi di antaranya :
1.
Pengembangan teknik Evaluasi hasil belajar
afektif.
2.
Pengembangan teknik Evaluasi hasil belajar
psikomotor.
a. Evaluasi ranah afektif
Ranah afektif merupakan
kawasan pendidikan yang masih sulit untuk digarap secara operasional. David
Krathwohl beserta para koleganya yang adalah para pakar dengan reputasi
akademik memadai pun mengeluh betapa sulit mengembangkan kawasan afektif
terutama jika dibandingkan dengan kawasan kognitif. Kawasan afektif seringkali
tumpang tindih dengan kawasan kognitif dan psikomotorik. Teoretik kita bisa
membedakannya, praktiknya tidak demikian.
Afektif merupakan karakteristik atau unsur afektif
yang diukur, bisa berupa minat, sikap, motivasi, konsep diri, nilai, apresiasi,
dan sebagainya.
Afek merupakan traits psikologik
yang tidak dapat diamati secara langsung. Kita hanya dapat “memotretnya”
melalui perilaku wujud, apakah perkataan atau perbuatan. Kemunculan perilaku ini
bisa menunjukkan 3 kecenderungan atau “arah” (Anderson, 1981):
positif, netral, atau negatif. Selain memiliki arah, afek juga memiliki
“intensitas”, artinya perilaku yang dinyatakan dalam tujuan atau kompetensi
afektif haruslah yang mempunyai kemungkinan tinggi (high probability
behavior). Pengukuran afek harus pula menyediakan pernyataan “kondisi”
dalam kompetensi atau tujuannya, yang menunjukkan terjadinya perilaku yaitu
berupa sejumlah preferensi atau pilihan yang disediakan bagi siswa. Siswa bebas
memilih. Juga mengandung pernyataan “kriteria”, apakah kriteria yang terkait
dengan jumlah subjek atau jumlah kegiatan/perilaku.
Struktur ranah afektif
sebagaimana dikembangkan Krathwohl et al (1964) cukup rumit. Artinya struktur
afektif ini unsur-unsurnya cukup kompleks.
Sikap berhubungan
dengan intensitas perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek psikologik
(misal kegiatan pembelajaran, atau mata pelajaran). Minat berhubungan
dengan keingintahuan seseorang tentang keadaan suatu objek psikologik, atau
pilihan terhadap suatu kegiatan. Konsep diri berhubungan dengan pernyataan
sendiri tentang keadaan diri sendiri, tentang kemampuan diri terkait objek
psikologiknya. Nilai berhubungan dengan keyakinan seseorang tentang
keadaan suatu objek atau kegiatan. Teknik pengukuran afektif dapat dilakukan
dengan berbagai ragam misal:
1)
skala bertingkat (rating scale;
suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil pertimbangan);
2)
angket (questionaire; sebuah daftar
pertanyaan yang harus diisi oleh siswa);
3)
swalapor (berupa sejumlah pernyataan yang
menggambarkan respon diri terhadap sesuatu);
4)
wawancara (interview; tanya jawab
atau dialog untuk menggali informasi terkait dengan afek tertentu);
5)
inventori bisa disebut juga sebagai
interviu tertulis. Dilihat dari banyaknya jajaran kalimat yang isinya hanya
perlu di dijawab dengan tanda check, inventori dapat disebut checklist (menandai),
daftar atau inventarisasi pribadi, dan lain-lain alat atau teknik nontes.
Masalahnya adalah,
bagaimana mengembangkan instrumen pengukuran afektif yang bermutu sebagai dasar
penilaian afektif yang bermutu pula sehingga evaluasi efektif dapat berfungsi
sebagai salah satu alat penjamin mutu pendidikan di sekolah sekaligus sebagai
alat penjamin mutu guru. Penilaian afektif berguna antara lain untuk bahan
pembinaan bagi siswa dalam usaha meningkatkan penguasaan kompetensinya dan
masukan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran.
Secara umum,
pengembangan alat evaluasi atau instrumen afektif menuntut beberapa langkah:
membuat definisi konseptual, membuat definisi operasional, menentukan metode
pengukuran atau skala pengukuran, analisis instrumen. Langkah-langkah ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a.
Membuat definisi konseptual, dalam hal ini
kita perlu memahami konstrak (construct) teoretik;
b.
Membuat definisi operasional, di dalamnya
kita menentukan domain atau indikator, serta menentukan objek psikologiknya,
untuk kemudian dibuat kisi-kisi, serta membuat butir-butir pernyataan;
c.
Menentukan metode pengukuran atau
penskalaan, untuk mengukur sikap misalnya ada 3 metode utama yaitu : judgment
method, response method, kombinasi kedua metode yakni judgment
and response methods;
d.
Analisis instrumen, hal ini dilakukan
setelah kita melakukan ujicoba pengukuran, hasilnya kemudian dianalisis baik
per butir maupun keseluruhan butir.
Sementara Sutrisno Hadi
(1991), secara lebih sederhana menjelaskan 3 langkah pokok dalam menyusun
instrumen:
1)
Mendefinisikan konstrak;
2)
Menyidik faktor (identifikasi faktor atau
dimensi);
3)
Menyusun butir-butir pernyataan.
Apabila ketiga langkah
itu telah dilakukan, selanjutnya dilakukan ujicoba atau pelaksanaan pengukuran
itu sendiri, kemudian hasilnya diuji atau dianalisis:
1)
Uji keandalan antar rater (hanya jika
konstrak yang diukur dikerjakan melalui rating atau penilaian panelis);
2)
Uji kesahihan butir;
3)
Uji keandalan butir;
4)
Uji kesahihan faktor.
Untuk menghasilkan
instrumen yang baik, analisis instrumen hendaknya dilakukan secara kualitatif
atau validasi non statistik (content validity), dan analisis kuantitatif
(analisis butir, analisis reliabilitas dan validitas terutamaconstruct
validity).
b. Evaluasi ranah psikomotor
Istilah psychomotor,
psikomotor terkait dengan kata motor, sensory-motor, atau perceptual-motor.
Ada beda makna
antara skills (keterampilan) dan abilities (kemampuan).
Keterampilan lebih terkait dengan psikomotor, sedangkan kemampuan terkait
dengan kognitif selain pikomotor itu sendiri.
Taksonomi dalam ranah psikomotor
dirumuskan oleh Anita J. Harrow (1976). Menurutnya, ada 6 tingkat klasifikasi
dalam ranah psikomotor yaitu :
a.
Gerakan refleks (Reflex
Movements), yakni respons gerakan yang tak disadari yang dimiliki individu
sejak lahir, mencakup : refleks segmental, refleks intersegmental, dan refleks
suprasegmental. Ketiga refleks ini terkait dengan gerakan-gerakan yang
dikoordinasikan oleh otak dan bagian-bagian sumsum tulang belakang.
b.
Basik gerakan dasar (Basic-Fundamental
Movements), yaitu gerakan-gerakan yang menuntut kepada keterampilan yang
kompleks sifatnya, meliputi :
1)
gerakan lokomotor (gerakan yang mendahului
kemampuan berjalan seperti tengkurap, merangkak, memanjat);
2)
gerakan nonlokomotor (gerakan dinamik
dalam suatu ruangan yang bertumpu pada suatu sumbu tertentu);
3)
gerakan manipulatif (gerakan yang
terkoordinasikan seperti gerakan dalam ibadah shalat).
c.
kombinasi dari kemampuan kognitif dan
gerakan (Perseptual Abilities)
1.
Diskriminasi kinestetik (menyadari akan
gerakan tubuh seseorang)
a)
Kesadaran bodi (menyadari gerakan pada dua
sisi tubuh, satu sisi tubuh, keseimbangan atau keberatsebelahan);
b)
Imej bodi (perasaan adanya gerakan yang
terkait dengan badannya sendiri);
c)
Hubungan bodi dengan lingkungan sekitar
(arah dan kesadaran badan kaitannya dengan lingkungan ruang sekitar);
2.
Diskriminasi visual:
a)
Kemampuan membedakan bentuk dan bagian-
kemampuan mengikuti objek- mengingat pengalaman visual
b)
Membedakan figur yang dominan di antara
latar belakang yang kabur
c)
Konsistenssi, pengenalan konsep viual;
d.
Kemampuan yang diperlukan untuk
mengembangkan gerakan-gerakan keterampilan tingkat tinggi (Physical
Abilities), meliputi ketahanan, kekuatan, kellenturan, kecerdasan otak (agility)
atau kemampuan untuk bergerak cepat.
e.
Gerakan yang memerlukan belajar (Skilled
Movements) misal keterampilan menakar atau menimbang beras zakat fitrah,
meliputi keterampilan adaptasi terkait dengan basik gerakan dasar; keterampilan
adaptasi kombinasi misal menggunakan peralatan tertentu; keterampilan adaptasi
kompleks seperti menguasai mekanime seluruh tubuh dalam gerakan-gerakan shalat;
f.
Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan
gerakan (Non-Discursive Communication), meliputi : gerakan ekspresif; gerakan
interpretif seperti gerakan dalam seni dan kreatif (improvisasi).
Sementara taxonomi psikomotor versi
Simpson mencakup 7 kategori :
1)
Perception (persepsi) mencakup kemampuan mengadakan diskriminasi yang tepat
antara dua atau lebih perangsang menurut ciri-ciri fisiknya;
2)
Set (kesiapan) yakni
menempatkan diri dalam keadaan akan memulai suatu gerakan;
3)
Guided Response (gerakan terbimbing) yaitu kemampuan untuk melakukan serangkaian
gerak sesuai contoh;
4)
Mechanical Response (gerakan terbiasa) berupa kemampuan melakukan gerakan dengan lancar
karena latihan cukup;
5)
Compex Response (gerakan kompleks) mencakup kemampuan melaksanakan keterampilan yang
meliputi beberapa komponen dengan lancar, tepat, urut, dan efisien;
6)
Adjusment (penyeuaian
pola gerakan) yaitu kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerakan
seuai kondisi yang dihadapi;
7)
Creativity(kreativitas) yang berupa kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru
berdasarkan inisiatif dan prakarsa sendiri.
Pengukuran karakteristik
(gerak) dalam ranah psikomotor dilakukan terhadap proses maupun hasil belajar
yang berupa tampilan perilaku atau kinerja. Dalam hal ini kita bisa menggunakan
kriteria atau prinsip-prinsip : kecermatan, inderawi, kreatif, efektif. Menurut
Antony J. Nitko (1994) untuk mengukur gerak motorik ada dua pendekatan: (1)
pengamatan dan pengukuran pada saat proses berlangsung; (2) pengamatan dan
pengukuran pada hasil dari gerakan motorik. Pendekatan pengukuran proses
memerlukan kecermatan dan konsentrasi serta waktu yang relatif lama. Sementara
pengukuran dengan pendekatan hasil relatif lebih mudah mengamatinya. Pengukuran
karakteristik psikomotor yang baik adalah menggunakan dua pendekatan tersebut.
Pengukuran karakteristik
psikomotor dapat menggunakan beraneka model instrumen, misal: (1) Checklist (menandai);
(2) Identification Test (tes identifikasi); (3) Ranking (urutan);
(4) Numerical Scales (skala angka); (5) Graphic Rating
Scales (skala rating grafik). Kesemua model ini menggunakan pendekatan
observasi (pengamatan). Pengamatan terhadap karakteristik psikomotor dilakukan
dalam upaya untuk menemukan kesesuaian teori (materi belajar yang pernah
dipelajari) dan tampilan atau kinerja yang dapat ditunjukkan oleh siswa.
Guru yang melakukan
pengukuran karakteristik psikomotor siswa dengan menggunakan tes tindakan perlu
memahami 4 hal : kecepatan, kecermatan, gerak dan waktu, serta ketahanan dan
kemampuan fisik. Keempat hal ini masing-masing dapat dijabarkan ke dalam 4
jenis tes yaitu : tes kecepatan, tes kecermatan, tes gerak dan waktu, serta tes
ketahanan dan kemampuan fisik.
Pengukuran karakteristik
psikomotor dengan menggunakan tes tindakan perlu ditempuh dengan serangkaian
langkah sebagai berikut : (1) identifikasi gerak motorik yang dikehendaki berdasarkan
kompetensi dasar yang relevan, untuk hal ini perlu dibuat kisi-kisi; (2)
tentukan apakah proses atau hasil yang hendak diukur; (3) membuat butir-butir
tes beserta kunci jawaban (poin-poin atau rambu-rambu jawaban); (4) tentukan
skala pengukurannya, cara penskorannya; (5) lakukan validasi isi tes; (6)
revisi berdasarkan hasil validasi; (7) sebelum digunakan, sebaiknya diujicoba
kemudian dianalisis; (8) revisi berdasar hasil ujicoba dan analisis; (9) hasil
tes siap digunakan.
Penilaian berbasis Kelas
(PBK) dalam Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK
mengisyaratkan bahwa untuk menilai ranah psikomotor digunakan penilaian unjuk
kerja/kinerja (performance), atau jenis lain yaitu penilaian proyek,
portofolio, dan penilaian produk. Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan
pengamatan. Untuk ini guru perlu menyiapkan lembar pengamatan secara baik.
Lembar pengamatan yang baik setidaknya mencakup : (1) kemampuan atau
karakteristik psikomotor apa yang dinilai; (2) indikator-indikator pada setiap
aspek kemampuannya jelas; (3) masing-masing indikator memiliki deskriptor
(dengan menggunakan skala bertingkat) yang jelas; (4) serta penilaian atau
penskoran akhir harus jelas pula. Lembar pengamatan yang baik perlu dilakukan
validasi isi, ujicoba dan analisis (konkordansi antar rater, reliabilitas, dan
validitas).
Pemilihan dan penggunaan
jenis-jenis penilaian psikomotor tergantung pada kebutuhan. Yang terpenting,
apapun jenis penilaian (pengukuran) yang digunakan, dalam perspektif PBK, dan
proses penilaian perlu mendasarkan pemahaman pada tata urut rumusan yang telah
digariskan dalam pengembangan silabus dan sistem penilaian, yaitu dimulai dari
identifikasi, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok dan
uraiannnya, pengalaman belajar, indikator, dan penilaian itu sendiri. Dengan
demikian logika penilaiannya dapat ditelusuri dengan jelas.
D.
Penilaian
Skala Sikap (Skala Likert, Guttman, Rating Scale,Dll)
a. Skala Sikap (Attitude Scale)
Sikap merupakan suatu
kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode,
teknik dan pola tertentu. Dalam mengukur sikap, guru harus memperhatikan tiga
komponen sikap yaitu kognisi (pengetahuan terhadap objek), afeksi (perasaan
terhadap objek), dan konasi (berperilaku terhadap objek). Model skala sikap
yang biasa digunakan antara lain:
a. Menunjukan bilangan untuk menunjukan tingkatan objek yang dinilai (1,2,3)
b. Menunjukan frekuensi (selalu, sering, tidak pernah)
c. Menunjukaan istilah kualitatif ( baik sekali, baik, kurang baik)
d. Menunjukan status atau kedudukan (sangat tinggi, diatas rata-rata, rendah)
e. Menggunakan kode bilangan atau huruf ( selalu(5), kadang-kadang (4), jarang
(3), jarang sekali (2), tidaak pernah (1)
a)
Skala likert
Prinsip
pokok skala likert adalah menentukan lokasi kedudukukan seseorang dalam suatu
kontinum sikap terhadap objek sikap,
mulai dari sangat negatif sampai dengan
sangat positif. penentuan lokasi itu
dilakukan dengan mengkuantifikasikan
pertanyaan seeseroang terhadap butiran pertanyaan yang disediakan.
Untuk
skala likert digunakan skala dengan llima angka. Skala 1 (satu) berarti sangat
negatif dan skala 5 (lima) berarti
positif.
Skala
ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh respons yang
menujukan tingkatan. Contoh pilihan respons:
SS = sangat setuju
S = setuju
TB
/ R = tidak punyak pendapat/
ragu-ragu
TS = tidak setuju
STS = sangat tidak setuju
Contoh
instrumen untuk mengukur sikap siswa
terhadap mata pelajaran TIK
Contoh
instrumen untuk mengukur sikap siswa
|
NO
|
Siakap siswa
|
STS
|
TS
|
R
|
S
|
SS
|
|
1
|
Pelajaran
TIK bermanfaat
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pelajaran
TIK sulit
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Tidak
semua siswa harus belajar TIK
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pelajaran
TIK harus dibuat muda
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Harus
banyak latihan pada pelajaran TIK
|
|
|
|
|
|
Skoring pilihan jawaban skala likert
tergatung pada sifat pernyataann. Untuk pernyataan yang bersifat positifskor
jawaban adalah : SS = 5;S =4;R = 3; TS = 2; dan STS = 1.
Untuk pernyataan yang bersifat negatif
adalah sebaliknya,
Yaitu:
: SS = 1;S = 2;R = 3; TS = 4; dan STS = 5. Contoh pernyataan positif :” pelajaran
TIK bermanfaat”, sedangkan contoh pernyataan negatif antara lain :” tidak semua
sisiwa harus belajar TIK”.
Langkah-langkah Model
Linkert:
a. Memilih variabel afektif yang akan diukur
b. Membuat pertanyaan terait variabel yang akan diukur
c. Mengklasifikasikan pertanyaan yang positif dan negatif
d. Menentukan angka yang menjadi alternatif pilihan
e. Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian
f. Melakukan uji coba
g. Membuang butir pertanyaan yang kurang baik
h. Melaksanakan penilaian
b) Skala
guttman
Skala ini merupakan
sederetan pernyataan opini tentang sesuatu objek secara berurutan. Responden
diminta untuk menyatakan pendapatnya tentang pernyataan pendapatnya tentang
pernyataan itu (setuju atau tidak setuju). Bila ia setuju dengan pernyataan
pada nomor urut tertent, maka diasumsikan juga setuju dengan pernyataan
sebelumnya dan tidak setuju dengan pernyataan sesudahnya.
Contoh
:
1. Saya
mengizinkan anak saya bermain ke tetangga.
2. Saya
mengizinkan anak saya pergi kemana ia mau.
3. Saya
mengizikan anak sya pergi kapan saja dan kemana saja.
4. Anak
saya bebas pergi kemana saja tanpa seizin terlebih dahulu.
Bila responden setuju dengan pernyataan
nomor 3 misalnya,maka dianggap setuju dengan pernyataan 1 dan 2 serta tidak
setuju dengan pernyataan nomor 4.
c) Skala lajuan (Rating Scale)
Pengertian Rating Scale adalah instrumen pengukuran non-tes yang
menggunakan suatu prosedur terstruktur Untuk memperoleh
informasi tentang sesuatu yang diobservasikan yang menyatakan posisi tertentu
dalam hubugannya dengan yang lain ( Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. 2005:
112)
Rating Scale terdiri dari dua bagian yaitu:
1. Pernyataan tentang kualitas keberadaan sesuatu.
2. Petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut.
Setiap pasang
pernyataan dan penilaian dapat dianggap sebagai satu butir soal dalam Rating
Scale.
Ada empat tipe Rating Scale daianataranya yaitu:
1. Numerical rating scale
2. Descriptive graphic
rating scale
3. Ranking method rating
scale
4. Paired comparisons
rating scale
Dari keempat tipe
tersebut Numerical rating scale, dan Descriptive graphic rating scale palig
banyak digunakan.
E.
Gambaran umum perbedaan tes standar dan tes buatan
guru.
- Pengertian Tes Standar, Tes Prestasi Standar
Pengertian tes standar secara sempit
adalah tes yang disusun oleh satu tim ahli, atau disusun oleh lembaga yang
khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi
syarat sebagai tes yang baik. Tes ini dapat digunakan dalam waktu yang relatif
lama, dapat diterapkan pada beberapa obyek mencakup wilayah yang luas. Untuk
mengukur validitas dan reliabilitasnya telah diuji-cobakan beberapa kali
sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
Di antara tes
prestasi yang digunakan di sekolah ada yang dinamakan tes prestasi standar. Dalam salah
satu kamus, arti kata ”standar” adalah: A degree of level of
requirement, excellence, or attainment
Standar
untuk siswa dapat dimaksudkan sebagai suatu tingkat kemampuan yang harus
dimiliki bagi suatu program tertentu. Mungkin standar bagi suatu kursus A
berbeda dengan B. Jadi standar ini dapat dibuat “keras” maupun “lunak”
tergantung dari yang mempunyai kebijaksanaan.
Suatu tes standar
dengan demikian berbeda dengan tes prestasi biasa.
Prosedur yang
digunakan untuk menyusun tes standar untuk tes prestasi melalui cara langsung
yang ditumbuhkan dari tes yang digunakan di kelas. Sedangkan spesifikasi yang
digunakan untuk menentukan isi dalam tes bakat biasanya didasarkan atas
analisis job (jabatan) atau analisis tugas yang merupakan tuntutan calon
pekerjaannya. Disamping itu juga mempertimbangkan sifat-sifat yang ada pada
manusia. Analisis jabatan analisis tugas yang dilakukan biasanya tidak tidak
didasarkan atas satu kurikulum, tetapi diambil dari masyarakat.
Istilah “standar”
dalam tes dimaksudkan bahwa semua siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
sama dari sejumlah besar pertanyaan dikerjakan dengan menggunakan petunjuk yang
sama dan dalam batasan waktu yang sama pula. Dengan demikian maka seolah-olah
ada suatu standar atau ukuran sehingga diperoleh suatu standar penampilan (performance)
dan penampilan kelompok lain dapat dibandingkan dengan penampilan kelompok
standar tersebut.
Istilah “standar”
tidak mengandung arti bahwa tes tersebut mengukur apa yang harus dan dapat
diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu menyiapkan suatu standar
prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu. Sekali
lagi, tes standar dipolakan untuk penampilan prestasi sekarang (yang ada) yang
dilaksanakan secara seragam, diusahakan dalam kondisi yang seragam, baik itu
diberikan kepada siswa dalam pelaksanaan perseorangan maupun siswa sebagai anggota dari suatu kelompok.
- Perbandingan Tes Standar dan Tes Buatan Guru.
Tes standar disusun dalam tipe-tipe soal
yang sama yang meliputi bahan atau pengetahuan yang sama banyak dengan bahan
atau pengetahuan yang dicakup oleh tes buatan guru. Lalu apakah perbedaan antara tes standar dengan tes
buatan guru, atau apakah keburukan dan keuntungan tes standar?
Pertama, marilah kita
tinjau perbedaan antara tes standar dengan tes buatan guru. Perbedaannya adalah
sebagai berikut:
|
Tes Standar
|
Tes Buatan Guru
|
|
a.
Didasarkan
atas bahan dan tujuan umum dari sekolah-sekolah di seluruh Negara.
b.
Mencakup
aspek yang luas dan pengetahuan atau keterampilan dengan hanya sedikit butir
tes untuk setiap keterampilan atau topik.
c.
Disusun
dengan kelengkapan staf profesor, pembahas, dan editor butir tes.
d.
Menggunakan
butir tes yang sudah diujicobakan (try out), dianalisis dan direvisi
sebelum menjadi sebuah tes.
e.
Mempunyai
reliabilitas yang tinggi.
f.
Dimungkinkan
menggunakan norma untuk seluruh Negara.
|
a.
Didasarkan
atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan oleh guru untuk kelasnya
sendiri.
b.
Dapat
terjadi hanya mencakup pengetahuan atau keterampilan yang sempit.
c.
Biasanya
disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau tanpa bantuan orang lain/tenaga
ahli.
d.
Jarang
menggunakan butir tes yang sudah diujicobakan, dianalisis dan direvisi.
e.
Mempunyai
reliabilitas sedang atau rendah.
f.
Norma
kelompok terbatas kelas tertentu.
|
Kedua, untuk menyusun
tes standar, diutuhkan waktu yang lama. Seperti disebutkan ahwa untuk
memperoleh sebuah tes standar melalui prosedur:
1.
Penyusunan;
2.
Uji
coba;
3.
Analisa;
4.
Revisi;
5.
Edit.
Kelima kegiatan ini membutuhkan waktu lama.
- Kegunaan Tes Standar dan Tes Buatan Guru.
a.
Kegunaan
Tes Standar
Secara singkat dapat dikemukakan
bahwa kegunaan tes standar adalah:
a.
Jika
ingin membuat perbandingan,
b.
Jika
banyak orang yang akan memasuki suatu sekolah tetapi tidak tersedia data
tentang calon ini.
Secara garis besar
kegunaan tes standar adalah:
i.
Membandingkan
prestasi belajar dengan pembawaan individu atau kelompok.
ii.
Membandingkan
tingkat prestasi siswa dalam keterampilan di berbagai bidang studi untuk
individu atau kelompok.
iii.
Membandingkan
prestasi siswa antara berbagai sekolah atau kelas.
iv.
Mempelajari
perkembangan siswa dalam suatu periode waktu tertentu.
b.
Kegunaan Tes
Buatan Guru
Secara singkat
dapat dikemukakan bahwa kegunaan tes buatan guru adalah:
i.
Untuk
menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan
dalam waktu tertentu.
ii.
Untuk
menentukan apakah sesuatu tujuan telah tercapai.
iii.
Untuk
memperoleh suatu nilai.
Selanjutnya baik tes
standar dan tes buatan guru dianjurkan dipakai jika hasilnya akan digunakan
untuk:
a)
Mengadakan
diagnosis terhadap ketidakmampuan siswa.
b) Menentukan tempat siswa dalam suatu kelas atau
kelompok.
c) Memberikan bimbingan kepada siswa dalam pendidikan dan
pemilihan jurusan.
d)
Memilih siswa untuk program-program khusus.
- Kelengkapan Tes Standar
Sebuah tes yang sudah
distandardisasikan dan sudah dapat disebut sebagai tes standar, biasanya
dilengkapi dengan sebuah manual. Manual ini memuat keterangan-keterangan atau
petunjuk-petunjuk yang perlu terutama yang menjelaskan tentang pelaksanaan,
menskor, dan mengadakan interpretasi.
Secara garis besar
manual tes standar ini memuat:
a.
Ciri-ciri
mengenai tes, misalnya
menyebutkan tingkat validitas, tingkat reliabilitas dan sebagainya.
b.
Tujuan
serta keuntungan-keuntungan dari tes
-Misalnya yang disebutkan untuk siapa tes tersebut
diberikan dan untuk tujuan apa.
c.
Proses
standardisasi tes
Misalnya mengenai
hal-hal yang berhubungan dengan sampel.
- Besarnya sampel,
- Teknik sampling,
- Kelompok mana yang diambil sebagai sampel (sifat
sampel).
Juga mengenai taraf kepercayaan yang diambil dan
bagaimana kaitannya dengan hasil tes.
d.
Petunjuk-petunjuk
tentang cara melaksanakan tes
Misalnya:
dilaksanakan dengan lisan atau tertulis, waktu yang digunakan untuk mengerjakan
setiap bagian, boleh tidaknya tercoba keluar jika sudah selesai mengerjakan
soal itu dan sebagainya.
e.
Petunjuk-petunjuk
bagaimana cara menskor
Misalnya: untuk
beberapa skor tiap-tiap soal/unit, menggunakan sistem hukuman atau tidak,
bagaimana cara menghitung nilai akhir dan sebagainya.
f.
Petunjuk-petunjuk
untuk menginterpretasikan hasil
Misalnya:
- Betul nomor sekian sampai sekian cocok untuk jabatan
kepala seksi,
- Betul nomor sekian saja, cocok untuk jabatan guru dan
sebagainya.
g.
Saran-saran
lain
Misalnya: siapa harus
menjadi pengawas, bagaimana seandainya tidak ada calon yang mencapai skor
tertentu dan sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa tahap evaluasi membutuhkan instrument yang bukann hanya
mampu pengukur keberhasilan mentransfer ilmu (kognitif) tetapi juga nilai
(afektif). Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan
alat ukur yang tepat dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan
di lapangan. instrument evaluasi jenis non-tes diartikan sebagai sesuatu yang
digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk memperoleh kualitas atas
suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes. Instrument evaluasi non-tes
tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu observasi, wawancara, skala sikap,
daftar cek, skala lenilaian, angket, studi kasus, catataninsidental,
sosiometri, inventori kepribadian dan teknik pemberian penghargaan
kepadapeserta didik. Tiap jenis instrument tersebut memiliki karakteristik,
langkah-langkah, kekurangan, dan kelebihan masing-masing yang memungkinkan
evaluator untuk memilih instrument yang paling sesuai untuk melakukan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2010. Evaluasi
Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Sudjana2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,Bandung:
PT Remaja RosdaKarya.
Anas Sidijono, Pengantar Evaluasi
Pendidikan, PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta, 1995
Ramayulis,Ilmu pendidikan islam, Kalam Mulia : Jakarta, 2008
Ramayulis,Ilmu pendidikan islam, Kalam Mulia : Jakarta, 2008